Bencana Di Kota Istimewa-Andika Eka Putra

Assalamualaikum Wr Wb.

Perkenalkan saya Andika Eka Putra, saya tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di kabupaten Bantul, saya ingin berbagi cerita saya mengenai peristiwa hari sabtu tanggal 27 Mei 2006 yaitu bencana yang terjadi di kota Jogjakarta
Hari itu hari sabtu tanggal 27 Mei 2006, saya melakukan aktivitas seperti biasa, pagi itu setelah mandi saya berjalan kekamar untuk berganti pakaian sekolah yang kebetulan pada hari itu hari sabtu dan menggunakan seragam pramuka ( pada tahun itu di Jogjakarta belum ada gerakan memakai batik dihari jumat dan sabtu) . Setelah hampir selesai dan tinggal mengambil baju tiba-tiba peristiwa yang tak akan terlupakan seumur hidup itu terjadi, secara tiba-tiba tanah berguncang dengan hebatnya, belum selesai saya kebingungan saya saat itu beberapa benda yang berada dikamar saya mulai jatuh ke lantai, saat itu juga saya langsung berlari keluar rumah, saya saat itu berlari keluar rumah berbarengan dengan tante saya, saat diluar rumah saya melihat sendiri rumah saya mulai hancur perlahan-lahan, ternyata ketakutan saya tak berhenti sampai disitu saja karena diluar rumah saya belum melihat ibu dan adik saya yang saat itu masih berusia 3 tahun, tapi beberapa saat kemudian ibu dan adik saya muncul dari arah samping rumah, ternyata mereka keluar menyelamatkan diri melalui pintu samping rumah (mungkin saat itu ibu sedang memasak jadi keluar rumah melalui pintu samping). Tante saya yang keluar rumah berbarengan dengan saya pun menangis melihat rumah yang sedikit demi sedikit mulai hancur, rumah saya memang saat itu salah satu yang hancur tanpa sisa alias rata dengan tanah, benar-benar bangunannya tak ada lagi yang berdiri. Gempa Jogjakarta saat itu yang saya ketahui hanya berdurasi tak lebih dari satu menit tetapi saat itu seperti terasa lama sekali, beberapa saat setelah gempa berhenti dan kami pun belum hilang takut dan kagetnya, tiba-tiba saja ada gempa susulan yang saat itu saya ingat kekuatannya hampir sama dengan gempa pertama, kembali lagi kami berhamburan berlari untuk mencari tempat yang menurut kami aman dari gempa. Setelah gempa susulan itu kami masih belum berpindah dari tempat yang menurut kami aman, keadaan mulai tenang walaupun hanya sedikit, kami yang masih dalam keadaan takut itu tiba-tiba mendengar kabar jika ada tsunami, kami yang masih ketakutan karena peristiwa yang baru saja terjadi dibawa panik kembali oleh kabar itu, tetangga-tetangga saya pun dengan serentak mulai berlarian menuju bukit di timur desa kami ( sebenarnya saya tidak tahu itu bukit atau bukan,tapi itu tempat tertinggi di sekitar wilayah desa saya ) ada pula tetangga saya yang pergi dengan motor, yang sekarang saya tahu saat itu mereka pergi ke tempat saudara yang lebih aman atau kearah bukit-bukit yang lebih tinggi dari yang ada disekitar desa kami. Saya saat itu tidak langsung pergi ke bukit itu, tetapi saya yang bersama ibu,adik dan tante saya sedang menunggu bapak dan keluarga saya yang lain, setelah bapak saya mendatangi saya bapak menyuruh kami pergi bersama tanpa beliau,karna beliau katanya lebih memilih menjaga sekitar rumah saat itu karena banyak pencuri setelah didesa sebelah ada beberapa pencuri yang tertangkap, tidak habis fikir juga saya saat itu, disaat keadaan yang benar-benar genting, dalam keadaan yang panik bisa-bisanya ada sekelompok orang yang memanfaatkan situasi untuk kepentingan mereka pribadi. Bapak saya yang menyuruh kami lekas pergi ke bukit itu berkata kepada saya,,,perkataan yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya, beliau berkata “Cepat kesana, cepat naik.bawa ibu sama adikmu selamatkan mereka, bapak tidak bisa ikut,biar bapak yang jaga disini’ . Saat itu saya menangis sejadi-jadinya,membayangkan akan kehilangan bapak saya jika tsunami itu benar-benar terjadi,saya saat itu tak mau pergi tanpa bapak saya ikut, rasanya lebih memilih bertahan disini untuk menemani bapak saya dengan apapun resikonya, tapi karena dipaksa dan mulai dimarahi oleh bapak akhirnya saya pun ikut menyusul tetangga-tetangga yang sudah lebih dulu berlarian ke bukit,saya pun melihat bapak-bapak dari tetangga-tetangga saya banyak yang tidak ikut ke bukit dan seperti bapak saya menjaga sekitar rumahnya..Saya dan ibu saat sampai dijalan raya mulai lebih panik lagi setelah orang-orang yang lewat dijalan itu berteriak-teriak bahwa air dari laut sudah sampai daerah yang tak jauh dari rumah kami, kami pun mulai naik ke bukit itu, langkah-langkah yang berat karena saya meninggalkan bapak saya dirumah dengan kabar-kabar yang terus berdatangan bahwa air sudah semakin mendekat. Rasanya hari itu sudah menjadi kiamat, rasanya hidup saya akan berakhir hari itu… di bukit itu orang-orang berkumpul, banyak yang tidak saya kenal dan tak sedikit juga yang saya kenali yaitu tetangga-tetangga, semua yang berada ditempat itu menangis, semua ketakutan membayangkan bencana yang akan terjadi karena sebelumnya sekitar 2 tahun sebelum gempa di Jogja, gempa dahsyat dan tsunami juga terjadi di Aceh. Lama kami menunggu dan berada disana, tapi apa yang orang-orang kabarkan tak kunjung datang, berarti hanya isu fikir kami saat itu, saya mulai mengucap syukur dan ingin segera pulang untuk memastikan bapak dan orang-orang didesa saya baik – baik saja. Saya pun segera mengajak untuk turun, betapa leganya saya saat sampai dirumah dan semuanya dalam keadaan baik. Karena rumah yang kami tinggali rata dengan tanah malamnya kami sekeluarga ada yang menginap dirumah tetangga yang tidak hancur karena gempa dan ada juga yang hanya tidur dijalan dengan tikar. Malam-malam selanjutnya masih berjalan seperti itu, sampai bisa membangun tenda dan bantuan mulai berdatangan, saya tinggal ditenda sekitar 3 bulan, bukan tenda yang sempurna karna jika ada hujan air masuk dan membuat isi didalamnya basah. Tapi dulu itulah tempat terbaik yang ada..
Gempa yang dahsyat itu sekarang saya ketahui berkekuatan 5,9 SR dan berpusat di laut.    Seingat saya saat itu didesa saya tidak ada korban jiwa dalam gempa tersebut, hanya ada korban luka-luka. Sampai sekarang gempa-gempa kecil kadang masih terjadi, walaupun trauma karena gempa tersebut belum sepenuhnya hilang,tapi sekarang saya bisa lebih tenang jika ada gempa. Sekarang sudah 10 tahun berlalu sejak gempa itu terjadi, sudah tak terlihat lagi bekas-bekas dari bencana tersebut, semua sudah dibangun kembali, semua sudah ditata kembali. Semoga bencana gempa yang sebesar itu tak terjadi lagi di Jogjakarta maupun dimanapun.
#YogyakartaBangkit #BantulBangkit
Terimakasih,
Wassalamualaikum Wr Wb

Andika Eka Putra